Showing posts with label naskah. Show all posts
Showing posts with label naskah. Show all posts

Saturday, 16 October 2021

Kisah Tentang Pengalaman

Kisah Tentang Pengalaman

anggapan seperti itu banyak telontar di kalangan masyarakat yang sering menyepelekan sastr Cerita Tentang Pengalaman
Indahnya dunia sastra

Banyak orang menyampaikan, “buat apa menggeluti dunia sastra”. Anggapan-anggapan mirip itu banyak telontar di kelompok penduduk yang sering menyepelekan sastra. Kurikulum di sekolah-sekolah pun juga banyak yang menganak tirikan pelajaran sastra. Sepertinya sastra telah menjadi suatu momok yang di takuti. Padahal intinya sastra melingkungi dunia kita. Lihat saja dikala kita bosan, saat kita tidak ada pekerjan dan ada waktu terluang, kita sering mengisinya dengan membaca karya sastra seperti novel, cerpen atau bahkan puisi. Sebenarnya telah sejak kecil sastra melingkungi kita. Kita ingat dikala ibu kita yang melelapkan kita dengan cerita-cerita yang disebut dongeng. Itu semua adalah sastra. Sastra ialah suatu hal yang patut dinikmati di segala usia sesuai karakteristik sastra tersebut.
Inilah sebuah pengalaman seseorang. Sebut saja namanya dengan “Koko”. Dulu Koko tak suka yang namanya pelajaran sastra dan tak mengenal karya sastra dengan erat. Namun ia sering menikmati indahnya sastra dari buku-buu cerita fiktif dan cerpen-cerpen yang sering muncul di majalah atau Koran. Namun itu semua cuma untuk mengisi waktu luang saja dan itu pun jikalau materi-materi bacaan itu ada di dekatnya. Di sekolah ia kurang menyukai pelajaran bahasa Indonesia yang berbau sastra. Di SMP dia tak kenal begitu dekat dengan namanya puisi. Ia hanya tahu bahwa puisi itu cuma sebuah pelajaran yang harus beliau jejalkan di otaknya dengan menggali apa amanat dan rimanya. Gurunya pun jarang mengajarkan puisi atau karya sastra yang lain. Entah apa alasannya adalah, atau memang bekerjsama gurunya itu juga tak suka sastra.
Tahun-tahun pertama beliau di SMA beliau lebih tak mengenal sastra. Ia pun lebih tak menyukai pelajaran yang berbau sastra. Kepalanya sakit kepala kalau harus bergelut dengan yang namanya jenis puisi, setting, alur, amanat, suspens, siti nurbaya dan istilah lain yang berhubungan dengan sastra. Ia pun takut setengah mati jika harus membaca puisi di depan kelas. Tugas menciptakan puisi ia serahkan terhadap kakaknya. Ia tak gundah jika hasil karya kakaknya ia beri namanya sendiri dan di kumpulkan. Dengan kata lain dia ialah plagiat. Di kelas dua SMA dia masih belum jauh mengenal dunia sastra. Pernah suatu kali pada jam pelajaran bahasa Indonesia kelasnya di beri peran untuk membuat puisi yang bertemakan daerah biasa . Dengan segala keringat yang mengucur dan menghabiskan dua jam pelajaran cuma terlahir puisi yang berjudul “halte” dan cuma beberapa larik saja.
Kemudian di permulaan kelas tiga SMA ia mulai melirik dunia sastra. Hal itu bermula ketika dia suka membaca puisi-puisi sobat dekatnya. Ia mulai menggemari sastra. Ia beranggapan, “jika temanku bisa, mengapa aku tidak”. Ia pun berpikir buat apa hidup di dunia tanpa ada karya. Ia pun belajar mengasihi sastra dengan membuat puisi. Walaupun awalnya beliau menjadi plagiat dengan mencipta puisi dengan mengambil dari beberapa lirik lagu yang berlawanan. Namun itu hanya sebatas buat mencar ilmu. Ketika dia mulai bisa menciptakan puisi sendiri dan mendapatkan idealisnya, dia sering menciptakan puisi walau tidak di suruh guru. Dan ketika sobat-temannya membaca puisinya, mereka sering meberi jawaban yang positif.
Dulu dia jarang sekali bercerita keluh kesah ihwal dirinya terhadap siapapun. Kini dia memiliki daerah untuk mencurahkan apa yang dirasakannya. Ada ketenangan dan kesenangan sendiri baginya jikalau menghasilkan karya sastra.
Waktu terus berjalan, kini beliau juga harus di hadapkan sebuah realita bahwa beliau juga harus mengambil kuliah dengan program studi yang tidak jauh dari seluk beluk kehidupan sastra. Ia mulai menggeluti dunia sastra lebih erat. Ia mulai belajar membuat karya gres berbentukcerpen. Yang membuat semangatnya lebih yaitu cerpen karya pertamanya termuat dalam seri penerbitan sastra di kota kawasan dia kuliah. Semakin usang beliau lebih akrab dengan sastra. Dan semua itu merupakan suatu kesenangan tersendiri. Ia besar hati dengan hasil karya-karyanya. Itu semua memotivasi dirinya untuk mengikuti kontes-lomba penulisan puisi dan cerpen. Tak jarang pula mengirimkankan karyanya ke media masa. Walaupun sering mengalami kegagalan karena tak di muat, dia menganggap kegagalan adalah motivasi untuk berkarya dengan hasil yang terbaik. Sekarang dia menyadari betapa indahnya bergelut dengan sastra. Ia mulai mengenal tokoh sastra mirip HB. Jassin, Seno gumirah ajidarma, Hamsad Rangkuti dan lainnya, bahkan sastrawan muda mirip Ratih Kumala dan Dwicipta. Ia mempunyai impian untuk maju mirip sastrawan-sastrawan yang dikenalnya. Ia pun tak lelahnya menciptakan karya-karya gres karena beliau berpedoman bahwa hidup harus berkarya.
Puisi

Puisi

cerita hidup

di tengah kabut yang menderai pucuk pucuk cemara
langit membenamkan riuh takdir sang kuasa
adakah tajam tangan angin menghempas berjuta buaian landai
sehingga menerbangkan helaian daun daun yang mulai rapuh
mirip udara malam dalam keheningan surya padam
tengadahkan mata yang mulai layu terayun langkah gontai
menari pertanda secuil senyum yang terbakar merah hati
kalaupun ada yang menjamah hanyalah tanah lembap
dan hujan akan berhenti ketika senyum itu sudah pudar
segenap menyimpan berjuta makna yang lama terpendam
lihatlah surya telah mengawali harinya
dan senyum kecil itu telah berdiri walau tak seceria kemarin
mencoba mengatupkan lara oleh gerlap sang dunia
hitam yang menyelimuti tak luruhkan singgasana hati

dalam pusaran kilau mentari
pesankan pada awan untuk membungkus sejuta diam
dan menerbangkannya ke seluruh alam maya
seperti halnya seuntai lirik tak bernyawa ini
ingin terbang mengelilingi hidup dengan sejuta iringan peri
yang memandang penuh warna
hingga menyatukan rasa dalam selaksa makna


***$$***

Jasad-jasad Cinta

Bangkit berdirilah pengukuh jiwa
terbanglah bareng angin mengarah ke nadi
cucurkan tangis senyummu
hingga
menjadi darah menghidupkanku
sampaikan pada jasaad-jasadku yang mati
ia masih bernyawa
menuang sari-sari air memabukkan
bersendawa mengukus bingkisan alam
sadarkan bahwa realita tak hanya suatu desir bayangan
tetapi suatu titian hati terjalani
menggapai bawah sadar menghanyut
tirai pembatas antara hidup dan mati
engkaulah sukma pembangkit jasad-jasad cintaku yang mati
kekuatan nadi memerahkan darah kerinduan
menyergap dinding-dinding kesucian
meringkuh sukma-sukmamu yang terbang
di titian jasadku


***$$***
Nyanyian nirwana

Jika kau menerbangkanku seperti dedaunan
tertiup angin
bukankah aku mirip burung-burung
yang membuat tubuhku menjadi sarangnya
menghangatkan badan dari sengatan raja cahaya
dan hempasan topan yang merontokkan bulu-buluku
sembunyi dari kutukan alam
mengais seberkah kelangkaan rasa
rebahkan badan di istana yang ku berdiri
menjadi mahkota berlian
menyerupai regukan bidadari-bidadari surga
melantunkan di antara bibir-bibir tipisnya
ihwal nyanyian nirwana



***$$***

Tenunan Kasih

berduri silih menyapa
menggempur lumpuh udara malam
menjangkitkan sayup kelopak mata
dan menemani dewi malam menenun kain kasihnya
menerawang di rajutan mimpi mimpi
melalaikan sejenak hari yang keras
bertumpu pada sinar bayang malam
ku sampaikan pesan bintang pada awan gelap
di atas arakan seribu bayang
maka tak cuma itu
dewi dewi malam ikut menangis
merenungi
rajutan kainnya menganga tersobek asa
***$$***
Ranting-ranting patah

saya menyaksikan ranting ranting patah di balik jeruji dedaunan
masih menengadah pada tanah berair
ilalang bersambut sayap kupu yang pecah
kabur terhempas angin terkuras
daun daun melepas sesudah menguning
membuat rentetan kata kata yang menghiasi tanah lapang
beliau mampu bermetafora dengan ayunan urat urat daun
berhelai helai menjatuhkan diri dari
ranting ranting patah
dan melayang terbang layang
mengikuti arah mata angin
saya tak menemui ada serangga kecil
seakan menawan daun
atau saya tak tersadarkan
dan terpaku pada tingkah laku ranting ranting patah
saya berlari sambil mengernyitkan dahi
berpikir sejenak kapan saya lepas
dari jeratan fatamorgana
selepas senja menghadirkan malam tak kulihat lagi rintihan ranting ranting patah
dan suara dedaunan melambai lambai tergerak
sepoi angin menyapa
cuma sinar bintang semakin usang meredup
tertutup awan berarak meninggalkan ujung dunia
***$$***
Di balik gelas kosong

mirip kilauan bening
menjauhi persepsi mata
bunyi denting kecil mengecil
seusai tenggorokan menyambutnya
terngiang fatamorgana hinggap dalam balutan
kering dahaga
tersembunyi keinginan merengkuhnya
sia sia tak kutemukan
setetes atau beberapa teguk air
kosong menghampa di sudut
antara ruang ruang yang bening
***$$***
Catatan hidup

dalam buku kehidupan
sang malam menulis jejak jejak
lusuh
mengubah bait bait siang
sekelumit cerita pagi menertawakan senja yang
tiba telat
lalu menetap mata kosong
di temui juga cerita cerita manusia bergerak menuruti
langkah
tegak, doyong, gontai bahkan lemah terbujur kaku
cuma di depan mereka datang
tak datang menjumpai belakang
mungkin sekedar ingatan saja
dongeng hidup fana ini
nantinya akan rampung
***$$***
Sisi gelap

saya tiba di antara samar samar
menelan indah segi hidupmu bareng
waktu yang takkan pudar
menetap segi batinmu yang membohongi
mirip bayangan mampu gelapkau takkan mampu menyaksikan
sejurus kamu coba tangkap raut wajahku kian melahat
saya mencoba bertanya pada gelap
kapan dirinya menjauhiku
teruntun waktu yang mau bisa menjawab
nahkoda hati berharap cepat berlalu
langkah teriring jejak kaki
menikam diri setajam batin
di antara cahaya pagi memulai sepi
dendangkan lagu berirama acuh taacuh
siarkan pada semua insan larang mereka meniru langkahku
kepahitan niscaya berjabatan
segi lain indah liku hidupku
***$$***
tabrakan nisan

merayap pelan menuju maut
berpesan tulisan ukiran nisan
berkembara sahut sahutan suara malaikat tuntunan ilahi
cuma suatu luka goresan dikala ku berenang ke tepian
laun waktu hempas kesombongan
larut dalam suatu kenistaan
derajat niat pangkat berlabuh setan
bertunggal perilaku nan kebodohan
seribu sihir menyulap kekayaan
neraka hati tatap di pojok jalan
tabrakan nisan masih di depan
di pahat indah di antara kotoran
nyawa dengan indah melayang angin puting-beliung
biarpun musibah melukis kehangatan
deru bising sejumlah kawanan
semasa di dunia berteman setan
beribut tawa neraka tuhan
sesal kemudian mengharap ampun tuhan
***$$***
Dia datang

Riak bayangan masih terang
bersandar mengapit segi batin
tersadar lembut alunan sepoi malam
mengawalkerapuhan sang dewi
terbang mengepakkan sayap kecilnya
menyerupai belaian malaikat
mencoba menusuk malam dengan senyum awet
antara palung gelap
masih ada sekat bening menghantam dinding kekosongan
meraba udara bergerak mengerlipkan mata
cuma dapat bicara kepastian dari langit
turun merusak butir-butir kebekuan jiwa
menari indah bersama kepakkan sayapnya
bersandar pada hembusan angin
tertatap semburat kabut melewati tapak jalan
mengendap bersama sukma terbang
masih ada tawa terpekik
keluar lembut mengalun beriringan
terukir berpengaruh diantara penggalan jiwanya
sangat mungkin ia lelah terbang
menukik melenturkan sayapnya
masuk diantara rongga hati
bersemayam tenang bareng sukma
di indahnya kedamaian pusara jiwa

Friday, 15 October 2021

Cerpen

Cerpen


KIRANA
(adh)

Saat pagi berjelajah dengan sejuk embunnya. Ku mulai membuka sayup mataku setelah lelah bergelanyut dengan mimpi semalam. Sandaran tubuhku masih merelakan dirinya untuk menemaniku. Menemani rasa malas untuk beranjak darinya. Selimut berwarna biru bau tanah masih melekat menutupi sejengkal tubuhku yang kedinginan. Dingin pagi ini benar-benar merajam kulitku hingga menusuk ke dalam sendi-sendi tulang. Aku memutar pandangku menjelajah situasi sekitarku. Mataku tertuju pada suatu jendela tanpa tirai yang kacanya terlapis embun. Menetes membentuk sebuah alur yang estetis. Aku menggeliat melemaskan rajutan ototku yang telah beristirahat kaku semalaman. Kini mulai ku rasakan setitik kesegaran dalam tubuhku.
Waktu menunjukkkan pukul 05.30. Rasanya malas sekali untuk bangun sepagi ini di hari ahad. Aku cuma melewatkan waktu dengan berhayal sampai rasa malasku hilang dan beranjak dari tempat tidur. Walau bekerjsama rasa kantuk telah menghilang dari sudut pelupuk mataku.
Semburat cahaya mentari mulai masuk ke dalam kamar melalui jendela. Mencoba menunjukkan hangatnya untuk mulai menenun dongeng hari ini. Kilau dan hangatnya mengusir embun yang menuang butiran rasa hambar. Mataku tersilaukan olehnya. Benar-benar pagi yang cerah. Burung-burung terdengar menyanyikan lewat alunan merdunya. Membentuk suatu suasana yang indah dan serasi. Tiba-datang terdengar lagu “Risalah Hati” milik Dewa 19 yang ialah nada panggil untuk handphoneku. Tanpa menunggu lama aku mengambilnya. Terlihat suatu nama di layar. “Kirana”.
“Hallo Jelek! Udah berdiri? Biasanya jam sepuluh kamu baru bangkit! Sikat gigi sana, anyir mulutmu sampai ke sini tau.” Terdengar bunyi Kirana mengawali percakapan dari handphone.
“Uuuhhh kau yang buruk, pagi-pagi gini udah telepon, emangnya ada apa Jelek?
“Begini, kamu hari ini ada acara nggak?”
“Ya tentu saja ada program, malah aneka macam acara hari ini, pokoknya sibuk banget, ya biasalah hari minggu gini jatahnya buat bersibuk ria dengan tidur”
“Ooo dasar kamu Jelek! Kerjaannya molor melulu”
“Kan dalam kurun perkembangan, he…he….he…! iya aku nggak ada acara hari ini.”
“ Bisa nggak nemenin saya ke pantai hari ini. Ya agak sorean aja semoga kita bisa menikmati sunset”
“ Ya dech demi kau buruk! Sekitar jam tiga saya jemput di rumahmu!”
“Key, makasih ya buruk…! Hwee…..! daaaah….ampe ketemu ntar sore.”
Kirana mentutup teleponnya. Memang ia manja sekali denganku. Kita sering saling ejek. Aku dan dia sering mengundang dengan istilah “Jelek”. Kita telah sangat akrab sekali ibarat seorang abang dan adik. Ya, memang saya tak menganggapnya sebagai teman kuliah atau sahabat dekat lagi, tetapi aku menganggapnya selaku adikku sendiri. Canda cerianya selalu mewarnai hari-hariku kalau saya sedang bersamanya. Dia penduduknya seringkali jutek tetapi sarat perhatian terhadapku.
Minggu siang terasa sungguh panas. Serasa hendak memecahkan kepala. Ibu menyuruhku mengantarkannya untuk arisan di rumah temannya. Sebenarnya ayah yang akan mengantarkannya, tetapi dia ada keperluan dengan rekan usahanya. Sudah sekitar jam dua lebih saya mengirimkan ibuku. Agak terburu-buru aku mengendarai Vespaku. Akhirnya hingga juga di tujuan. Aku langsung menuju rumah Kirana. Aku membawa Vespaku lebih cepat. Aku takut bila terlambat. Pasti Kirana akan murka dan ngomel tak karuan jikalau aku terlambat. Dengan kecepatan yang tinggi vespaku meluncur di atas aspal yang ramai dengan kendaraan.
Tepat jam tiga aku telah berada di rumahnya. Aku sudah sering ke rumahnya. Keluarganya juga ramah terhadapku. Mereka bahagia bila aku bermain ke tempat tinggal Kirana. Aku telah dianggap keluarganya sendiri. Maka tidak heran jika aku di sana terkesan agak bebas. Walaupun begitu aku masih tahu batas, akhlak dan norma yang berlaku.
Hal yang tak kusadari adalah tak mirip biasanya Kirana mengajakku keluar. Baru kali ini dia mengajakku keluar. Sebaliknya justru saya yang sering mengajaknya keluar. Entah itu kepantai, bioskop atau sekedar berkeliling kota. Aku sering curhat dengan dia ihwal persoalan-dilema yang aku hadapi. Entah itu tentang sekolah, keluarga dan problem eksklusif sekalipun. Kirana jarang sekali terbuka denganku. Ia seperti memendam sebuah problem yang ada pada dirinya. Aku sering bertanya padanya, tetapi candanya senantiasa dia gunakan menjadi senjata untuk membendung pertanyaanku itu. Aku tak berpikir macam-macam padanya alasannya adalah intinya aku mempunyai sifat yang dingin.
Aku menunggu Kirana di ruang tamu sambil menonton televisi. Jeda beberapa detik aku menanti, Kirana sudah timbul di tangga dari lantai dua rumahnya. Kulihat Kirana sudah rapi. Ia terlihat cantik dan elok. Di balik keanggunan dan kecantikannya, aku sering melihat kelopak matanya pucat. Namun semua itu bisa tertutupi oleh wajahnya yang senantiasa ceria. Pernah saya menanyakan ihwal hal tersebut. Dia hanya menjawab, “mungkin kurang tidur saja”. Aku pun tak menghiraukan persoalan tersebut. Setelah berpamitan dengan orang tuanya, kami pun berangkat.
Satu jam perjalanan, kita sudah sampai di pantai dengan Vespa biru kesayanganku. Entah kenapa saya sungguh sayang dengan Vespaku ini. Ayahku sudah beberapa kali ingin menawariku sepeda gres yang lagi modif kini ini. Namun aku masih setia dengan Vespa biruku ini untuk selalu mengantarkanku kemana saja saya pergi.
Langit tampak biru dengan lukisan awan yang makin memperindah singgasana langit. Burung camar berkejaran di atas derai ombak samudera. Aku dan Kirana duduk di bawah nyiur yang melambai-lambaikan daunnya alasannya adalah terhempas sang bayu. Berdua duduk berdekatan menikmati indahnya pantai di selingi dongeng yang terlantun dari benak kita.
Panjang lebar kita bercerita. Mencoba menandingi riuh bunyi ombak dengan lautan kisah. Hingga datang saatnya Kirana berbicara dengan lembut di bibirnya.
“ Aku mencintaimu” Sambil bibir tipisnya merayap dengan cepat di bibirku.
Aku terkejut dan posisi dudukku agak bergeser darinya. Aku kaget mendengarnya. Aku menjajal berkata, tetapi dengan gesit jari telunjuknya menutup mulutku.
“ Aku mencintaimu. Aku tahu di hatimua ada cewek lain. Tapi memang beginilah rasaku kepadamu. Aku percaya kamu hanya menganggapku sebagi sahabat atau adikmu semata. Aku cuma ingin berterus jelas padamu, alasannya saya takut kekurangan masa hidupku. Aku menderita kanker darah. Dokter telah memvonis hidupku tinggal satu bulan lagi. Aku takut rasa ini cuma terpendam dalam hati hingga simpulan napasku nanti. Kau “Jelek”! Aku sayang padamu”. Air mata Kirana meleleh membasahi pipinya.
Bagai tersambar petir di siang hari aku mendengarnya.
“Kirana” Aku memanggilnya dengan rasa belum percaya. Satu tahun semenjak saya mengenalnya, dia dengan rapat menyembunyikan diam-diam perihal penyakitnya. Keluarganya pun tidak pernah memberitahuku. Aku tak dapat berkata apa-apa. Apalagi ternyata dia mencintaiku. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan dalam benakku.
Tiba-tiba angin berhembus kencang. Menggoyang nyiur di sekitar pantai itu dengan kerasnya. Suatu hal yang tak terduga terjadi. Sebuah kelapa dengan ukuran tidak mengecewakan besar jatuh dan perihal tepat kepala Kirana. Darah pun mengucur dengan segera. Aku segera menangkap tubuhnya dalam pelukanku. Kirana menghembuskan napas terakhirnya. Jerit tangis membahana dari sudut jiwaku.
Ternyata Tuhan berkehendak lain. Kirana dijemput-Nya lebih permulaan dan dengan menyedihkan tepat di depan mata dan pelukanku sendiri. Dan inilah hari terakhirku bareng Kirana di dunia ini. Tak ada lagi kini, tawa cerianya dan ucapan lembut yang memanggilku “Jelek”.


Sent your coments to :adh_saraz@yahoo.co.id



NYANYIAN PANTAI
(adh)

Suara ombak riuh menerpa tegarnya karang. Menyapu lembut landai bibir pantai. Burung camar menari bersama hembusan angin. Terasa kencang sehingga sesekali sekawanan camar itu mesti melemahkan sayap mengikuti arah angin. Hinggap di balik rimbun dedaunan dan menengadah ke langit biru. Sementara sekawanan lainnya masih riuh menelanjangi keindahan alam pantai.
Panas sang surya terasa menyengat tubuh, meskipun ia sudah mulai cenderung ke ufuk barat. Panasnya meresap di antara sendi kulit seolah hendak menggosongkannya. Sepasang insan menatap jauh mengitari samudera di hadapannya. Sesaat persepsi merreka turun menyusuri ombak berkejaran. Mereka duduk berdekatan di atas hitam karang yang kokoh di bibir pantai. Kepala masing-masing saling condong dengan arah bertentangan sehingga berdekatan dan saling menempel.
Angin mengiringi nyanyian itu. Hembusannya menjadfi musik pengiring alami. Bibir Alisa menari membentuk alunan lagu. Bait demi bait terlantunkan. Angin sesekali menyibak helaian rambutnya, tetapi dia tetap melantunkan iramanya. Tak terusik tarian helai rambut di depan matanya. Suaranya begitu merdu. Syahdu meniti alam merindu.
Sementara Ale yang berada di sebelahnya tampakmenikmati alunan lagu tersebut. Alunan lagu dari Alisa terasa menyejukkan relung-relung jiwanya. Ale menyatukan perasaannya dengan keindahan situasi pantai dan alunan lagu Alisa. Mereka tak menghiraukan segelintir orang yang turut menikmati keindahan pantai. Suara anak tertawa riang bermain ombak kerap kali menyela lagu yang masuk ke indera pendengaran Ale. Semua tak mampu mengusik bagaimana Ale menikmati syahdu alunan lagu Alisa.
Nyanyian itu berhenti. Kedua mata saling memandang. Berangsur-angsur tatapan itu menjauh. Kemudian memandang jauh ke lepas pantai. Lagu itu seperti hilang tertiup angin kemudian terukir di putih arakan awan. Atau mungkin juga alunan lagu tersebut hilang menelusup jauh di jiwa Ale.
Dalam hati Ale, beliau memuji keindahan suara Alisa. Kebiasaan Ale cuma memuji seseorang dengan mulut terkunci. Ia tak suka memuji orang lain dengan jelas-terangan. Entah itu sahabat terdekatnya sekalipun. Bisa di katakan sombong mungkin. Mereka terpaku satu sama lain. kebosanan menggelanyuti mereka. Bukan kejenuhan menikmati lepas pantai tersebut, tetapi kebosanan yang menggiring hati mereka untuk lebih jauh menikmati pantai sekitar.
Keduanya beranjak berdiri. Mengikis langkah-langklah meninggalkan karang. Lembut pasir menggelitik kaki-kakinya. Bersama nyanyikan dongeng-cerita kemudian menghiasi langkahnya. Segenap rasa riang bersatu di perasaan mereka. Teringat akan kehidupan di sekolah lanjutan pertama. Di kala itu mulai perkenalan itu. Perkenalan yang memulai kisah-dongeng kocak kala akil balig cukup akal. Canda tawa, saling ejek, bahkan saling melakukan pekerjaan sama untuk mencontoh sewaktu ulangan. Memori otaknya masih mereka seluruhnya.
Bibir Alisa masih melantunkan dongeng-dongeng kala kemudian. Kemudian di susul cerita Ale. Tawa terpecah di antaranya bareng riuh deburan ombak. Berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih dalam rajutan benang asmara. Sebenarnya mereka hanyalah sahabat dekat, namun mereka tak pernah bercakap-cakap mengenai isi hati. Mereka cuma bercerita ihwal kehidupan sosialnya. Tak pernah timbul di antara dongeng mereka tentang cerita cinta. Tak tahu satu sama lain siapa yang di cintai atau bahkan kekasih masing-masing. Suatu persahabatan yang terasa gila.
Letih merajam kaki mereka. Sengatan mentari kian meredup. Ale mengajak Alisa duduk di bawah rimbun pohon di tepi pantai. Mata Ale menatap tajam paras Alisa. "Cantik juga", gumamnya dalam hati. Mata Alisa menangkap tatapan itu. Tatapan Ale secepat kilat berlari dari binar mata yang menangkapnya. Senyum Alisa tersipu-sipu.
Rasa itu berdesir dalam dada Ale. Namun kata hatinya menangkap berlawanan. Hatinya masih terpatri dengan seorang bernama Ita. Kenyataan tak menciptakan anggapan Ale mengolahnya menjadi sungguh-sungguh aktual. Ita tak tahu rasa dalam hati Ale. Ale sendiri hanya merasakannya. Tak ada suatu pengungkapan dan kepastian. Tak ada dongeng kasih di antaranya. Hanya ada rasa satu arah dari hati Ale. Atau mungkin Ita mencicipi hal yang serupa dirasakan Ale. Semua tak bisa terjawab cuma dengan membisu. Tanpa pengungkapan. Diam dan diam dalam rasa yang sekian waktu terus merong-rong hati Ale. Dan menyisihkan sebuah misteri.
Ale seakan tak sadar bahwa relevansinya dengan Alisa begitu erat ibarat sepasang kekasih. Teman-teman Ale maupun Alisa terkadang berkeyakinan mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Semua itu cuma bunyi angin. Isu semata. Ale tak menyadari bahwa kisah kasihnya dengan Alisa begitu aktual. Ke mana-mana selalu bareng . Entah itu acara ulang tahun, perayaan tahun baru atau liburan selalu terlihat bantu-membantu. Rasa tak mengikatnya atau memang belum datang waktunya.
Angan Ale terbang menembus alam pikirnya. Ia berpikir bila Alisa menjadi kekasihnya. Muncul di tengah angan itu wacana sifat-sifat Alisa yang mungkin banyak berlawanan dengannya. Namun Ale sekiranya justru menggemari sifat-sifat yang berlawanan dengannya itu. Tiba-datang pikirannya membentuk suatu pertanyaan bagaimana asanya untuk melangkah meniti rasa hati bareng dengan Ita. Serasa semua persoalan itu menumpuk menjejal seluruh alam pikirnya. Seakan hendak meledakkan otaknya.
"Le, Ale…..?Ale…?". suara Alisa begitu lembut untuk memecah lamunan Ale. Alisa melambai-lambaikan tangan kanannya di depan mata Ale. Ale pun tersigap. Ia menjauhkan lamunannya dan menanggapi suara Alisa. Alisa mengajaknya untuk pulang alasannya hari mulai beranjak petang. Ale beranjak dari duduknya. Tangan Ale menjulur ke arah Alisa yang merengek manja untuk membantunya bangun. Rengekan manja, canda tawa serta senyum Alisa kerap kali menggetarkan jantung Ale, walau bayangan Ita masih tetap menggelanyuti lubuk hatinya. Mereka berlangsung berdampingan dengan tangan Ale masih mencengkerama tangan Alisa. Terasa romantis dengan warna senja yang mulai memarun. Tapi mereka bukan sepasang kekasih.
Langkah kaki mereka menjauh dari pantai. Mereka sudah mendapati motor Ale. Motor belibis biru yang senantiasa mengawalAle ke mana saja dia pergi. Alisa membonceng di belakang Ale. Tidak terlihat sepasang kekasih. Alisa tak pernah mempererat boncengannya dengan Ale. Ia selalu menjaga jarak. Berbeda sekali dengan cewek-cewek lainnya. Walaupun bukan suami istri atau bahkan bukan kekasih, tetapi mereka berboncengan dengan pelukan yang dekat.
Jalanan begitu sepi. Hanya satu atau dua kendaraan sering kali berpas-pasan dengan motor Ale. Ale mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Laju motor menjauh dari pantai. Namun kian jauh, langit semakin hitam karena mendung. Rintik hujan pun turun. Langit semakin gelap oleh senja yang segera menjemput malam. Ale dan Alisa tetap meneruskan perjalanan walau dengan lembap kuyup. Mereka bisa saja menunggu hujan reda, namun hari semakin gelap.
Ale tetap tenang mengendarai motor di jalanan yang licin. Sesekali ia menggigil sebab kedinginan. Hempasan angin tak jarang menciptakan tubuh yang tak menggunakan jaket itu makin menggigil. Sementara Alisa justru melepas jaket hitamnya. Kemudian mengenakan jaketnya di tubuh Ale. Tepatnya di dada Ale, jaket itu melekat di dada Ale dengan perlindungan angin yang menghempas dari depan. Ale merasa hangat dengan jaket itu. Namun ale merasa perlakuan Alisa terhadapnya lebih hangat dari pada jaket itu. Hati Ale merasa nyaman, begitu besar perhatian Alisa terhadap Ale.
Ale mengirim Alisa hingga depan rumahnya. Ia tidak mampir dan eksklusif pamit untuk pulang. Saat beliau berpamitan dan melakukan motornya, Ale menatap Alisa yang melambaikan tangan dibarengi senyum manisnya. Ale membalas senyum itu dan berangsur-angsur menghilang di pojok jalan.
Tiga hari kemudian, Ale merasa gundah. Kemana rasa di hatinya berjalan. Alisa? Ita?. Dua insan yang memeluk hatinya. Hatinya terpagut akan rasa cinta pada Ita. Di segi lain hatinya juga terpagut Alisa. Alisa senantiasa mendatangkan cerita-cerita yang berkesan dalam hatinya. Alisa sering berada di sisinya. Banyak waktu yang dihabiskan bersama Alisa. Sedangkan bareng Ita, beliau hanya terbang bersama angan. Hanya rasa tanpa kepastian dan kenyataan.
Malam semakin larut. Ale menjangkau selimut dan memejamkan mata menembus alam mimpi.
Puisi Bulan Ini

Puisi Bulan Ini

Sajak air

di sungai panjang itu
ku karamkan sajak sajakku
tertawa bareng riak air
bergulung gulung menyerupai
awan berarak begitu cepat di langit
lalu berlabuh
di muara berpucuk delta
bahari maritim menunggu sajakku
biru tersa kecil sajakku untuk menghuninya
serta lihatlah
sajak sajakku kini bergulung gulung
memecah ombak
datang bareng ganasnya tornado



Jasad-jasad cinta 2

Masih terbujur kaku
beku merentangkan ucapku
terdengar lirih bunyi meluruh
menjebol alunan sepi menepi
untaian jasad-jasad cinta menggantung
setiap pojok kerinduan
menanti harap cemas
membujur kaku
membeku padu
mengikat waktu
cuma untuk itu
bahwa kepastian sang dewi
penawar kebekuan
menghangatkan hingga jasad-jasad cintaku
bergerak melalui keras sekat batinmu


jasad jasad cinta 3

berdirilah tegak mengukuhkan sukmaku
damaikan sela sela batinku yang koyak
ibarat kencana alam
bagai hiasan hidup abadi
menjelang tawa terhempas waktu
menetap selongsong berisi darah membeku
dan kamu kaparkan saya
ke sebuah pembaringan awet
tiupkan napas batin
harum menyiram beku batin
tersirat bahwa
jasad jasad ini telah luruh dalam cintamu


Tereja langkah

aku mengeja langkah terseret
dalam palung kehidupan
langkah demi langkah mencoba mengeja
menyapu landai gesekan senja
lampau sudah usai
kemudian menjumlah waktu
asa bukan menunggu
melainkan di cari dan mencari
menjumlah detik langkah ke jalan peraduan
ingin waktu tertelan bersama regukan cerita kita


Lepas pantai

lambaian bahari sore memarunkan langit
sejumlah camar mulai ke peraduan
kecil menghadap hamparan kemilau
bangkit membeku berkarang mati
mirip bekunya angkuhku mengakuimu
saya ingin menjadi ombak
setiap detik membelai pasir cintamu
saya ingin menjadi angin
setiap detik membelai indah nyiurmu
saya ingin menjadi tornado
meruntuhkan karang hatimu
dan cuma itu dalam lamunan
menjadi keteduhan semu
alasannya adalah kamu masih menatapku
jauh………
lalu menjauh…
jauh……..



Sepenggal pagi


kau sepenggal pagi
menyisakan senja bermuram
terhadap burung burung manyar
kau kabarkan tak ada pijar kabut hari ini
tak ada bagian embun
membasahi kepakan sayapnya
kamu sepenggal pagi
melukis tawa berkanvas murung
kepada buih buih ombak
kau ceritakan ada bagian cahaya terperinci di hatimu
melirik sempurna satu kebahagiaan
sayang…………..
tak kamu lihat ada seekor manyar
menggigil tersayat gontai
di perih sayap berdarah


Aku tak suka melati

kau tak ubahnya suatu melati
putih suci berbau bau
pagi kau pancarkan nurani
tak hiraukan apakah sepi
namun aku tak suka melati
layu di lalu hari
namun aku masih berharap
kau tak ubahnya suatu melati
putih suci berbau busuk
pastinya melati awet
berkembang suci di hati sanubari





Ada Jeda Ihwal Dongeng Kita

Ada Jeda Ihwal Dongeng Kita

Kisah hidup kita nanti akan ada jedanya, atau mungkin kini kamu atau dia bahkan mereka sedang mengalami kurun jeda. Jeda yang mau ikut memilih kisah hidu kita nanti berakhir dengan indah atau selsai dengan kesedihan. Sutradara kehidupan telah menuntun hidup kita dengan script yang telah di pastikan. Namun begitu dengan segala daya dan usaha kita mampu mengubah alur dan jalan dongeng dalam script. Keteguhan hati dalam menjalani hidup adalah bekal yang solid untuk nentuin jalan kita. Berikat pada sebuah prinsip dan janji dengan insan2 lain yang sehati dan sejalan dengan kita. Ada jeda dalam hidup kita.Keterpurukan dan kebahagiaan menyelami segi hidup kita di dunia ini. Langkah demi langkah sudah mmenuai gesekan makna dlam hidup kita. Namun kesia2an kita dalam menjalani hidup kadang berbuah sasal yang sering terlalu usang menghantui kita. Lelah dalam menjalani hidup ialah sebuah kerugian yang terbesar. Hidup akan indah bila kita menuangkan sari2 hidup kita ke dalamnya. Kemudian kita menulis di atasnya dengan karya2 hidup kita. Melukiskan ke atasnya ihwal lukisan yang indah dalam hidup kita. Namun jangan pernah sesali jeda hidup yang pernah kamu lalui, walau jeda itu mebuat kepahitan dallam hidup kita.
Jenis-Jenis Kritik Sastra

Jenis-Jenis Kritik Sastra

Sumber: Prinsip-prinsip Dasar Sastra – H.G. Tarigan (1984)


Jenis – jenis kritik sastra antara lain :

1) Kritik Judisial

Yaitu sebuah kritik yang mengemukakan sebuah penlaian atau penghakiman kepada suatu karya sastra, lalu menghubungkannya dengan norma-norma teknik penulisan atau kriteria tujuan penulisan karya tersebut. (Coulter, 1930: 336).
Rene Wellek dan Austin memastikan bahwa kritik yudisial menaruh perhatian pada hukum-aturan/ prinsip yang dianggap sebagai sebuah yang objektif. Dalam kritik yudisial, karya sastra yang menjadi objek kajian lebih dispesialisasikan namun dengan penjelasan yang seluas mungkin. Di sini dituntut pengklasifikasian yang lebih terperinci dan tajam terhadap para pengarang dan karyanya.



2) Kritik Induktif

Kritik Induktif yaitu jenis kritk sastra yang bermaksud mengumpulkan fakta-fakta yang ada korelasi dengan sebuah karya seni, tata cara, waktu penciptaan, dan menyusunnya menjadi susunan yang rapi serta melukiskannya dengan terorganisir. Ini sesuai dengan sistem induksi yang mengambil kesimpulan umum dari fakta-fakta yang khusus.


3) Kritik Impresionistik

Yaitu kritik sastra yang timbul sebagai bikinan dari fatwa individualisme romantik dan kesadaran akan diri yang lebih terbaru. Kritik ini menghubungkan pengalaman si penulis dengan karyanya. Sebaiknya, seorang kritikus memiliki gaya yang bisa membuat hati pembaca tertarik dalam kedudukannya sebagai pembimbing juga penghubung antara pembaca dan karya sastra.


4) Kritik Historis

Jenis kritik sastra yang mengikuti segala sesuatu yang terjadi atas suatu bentuk sastra dalam masa sejarah sastra. Juga dengan pengelompokan abad seorang pengarang. Setiap karya sastra mesti diteliti dan ditelaah dengan hal-hal yang bekerjasama dengan karya sastra tersebut. Hal-hal yang mampu menjadi bahan pola antara lain: naskah, bahasa dan komposisi karya sastra, serta perbandingan karya sang pengarang dengan teman-sobat seangkatannya,. Seorang kritikus harus paham bahwa karya sastra merupakan refleksi pengarang pada kehidupan dan kebudayaannya dan pengelompokan jenis karya sastra tersebut serta keterkaitannya dengan karya yang sejenis.
Butir –butir penting yang aberhubungan dengan kritik histories yaitu :
a) Dalam menggarap bahasa suatu karya sastra, sang kritikus histories dapat memikirkan dua hal ialah:
1) Mengembalikan para pembaca masa kini pada keadaan bahasa pada ketika karya tersebut ditulis.
2) Memandang bahasa itu selaku sebuah media komunikasi pada dikala itu.
b) Keterangan – keterangan berbentukriwayat hidup ialah jenis data yang bernilai dan amat berharga bagi kritikus histories.
c) Berusaha menerima segala hubungan antara kehidupan sang penulis dan karyanya .
d) Bagi kritikus histories, sastra ialah suara humanitas dan lewat sastra itu kritikus bukan hanya bekerjasama atau menaruh perhatian pada literacy (kecakapan baca tulis) tetapi juga human literacy (kecakapan baca tulis penduduk manusia).
e) Silsilah sastra atau genealogi sebuah karya.
f) Sang kritikus histories dalam kritik sastranya berkeinginan mendapatkan sukses yang gemilang dalam bidang pemaduan belajar dan evaluasi.



5) Kritik Filosofis

Merupakan jenis kritik sastra yang berupaya untuk menerima dasar yang paling cocok bagi penilaian karya sastra lewat analisis kepada hakekat dan fungsi sastra sebagai suatu cara berpikir mengenai kehidupan. Kritik ini berusaha menentukan prinsip yang digunakan dalam kritik sastra agar ajaran yang dipakai dalam suatu kritik terang dan tegas.


6) Kritik Formalis

Merupakan kritik sastra yang berpedoman pada teori dasar estetika yang menaruh tekanan pada bentuk karya sastra, struktur, gaya dan imbas psikologisnya. Aristoteles yaitu pencetusnya, kritik ini bertentangan dengan teori dari Plato yang menekankan pada aspek isi dan imbas watak/sosial.
Kritik formalis disamakan dengan the new criticism, karena memang ia merupakan sebuah kritik yang masih berusia muda., lebih – lebih kalau daripada kritik –kritik yang yang lain.



7) Kritik Relativistik

Jenis kritik ini berpedoman pada asumsi relativisme, ialah bahwa penilaian kepada karya sastra terantung pada subjek yang menikmati dan menilainya. Hal ini terjadi alasannya selera individu berlainan-beda, begitu juga dalam hal menikmati karya sastra sehingga tidak ada yang bersifat mutlak. Jika pertimbangan dari seseorang lebih mendominasi akan muncul sebuah teori yang absolut meski tidak disadari.


8) Kritik Absolutistik

Kritik jenis ini menegaskan bahwa alternative bagi hukum kritik adalah anarki. Ketika seorang kritikus menawarkan evaluasi terhadap sebuah karya yang datang selanjutnya yakni suatu kebingungan. Ini mampu disiasati dengan tetap menggunakan usulan masyarakat supaya tetap mampu terwujud komunikasi yang bagus.


9) Kritik Interpretatif

Semua jenis kritik sastra bisa digolongkan selaku jenis kritik ini alasannya adalah hakekat kritik sastra sendiri yakni menawarkan interpretasi/penafsiran kepada sebuah karya sastra. Maka, pengkhususan kritik sastra jenis ini yaitu memperkenalkan patokan yang secara relative tidak ada relevansinya dengan orang atau hal tertentu. Di sini akan tampakketerkaitan antara teori, sejarah dan kritik sastra. Tiada satu ilmu yang dapat bangkit sendiri seratus persen tanpa pemberian orang lain.


10) Kritik Tekstual

ialah jenis kritik yang terfokus pada teks/ naskah sebuah karya sastra, supaya pembaca lebih erat dengan apa yang ditulis. Dengan berkembangnya kala, kritik ini ingin memberikan manakah karya yang sungguh-sungguh orisinil dari beberapa versi karya sastra yang mungkin muncul.


11) Kritik Linguistik

Jenis Kritik ini menitikberatkan perhatian pada masalah-dilema kebahasaan dalam karya sastra tersebut semoga terhindar dari salah pengertian baik dari sisi fonologi, morfologi, sintaksis atau semantik. Ini perlu dijalankan alasannya adalah setiap bahasa mengalami pertumbuhan dalam masa waktu yang berlainan.


12) Kritik Biografis

Kritik ini bergotong-royong ialah kritik histories yang daerahnya dipersempit adalah khusus pada riwayat hidup pengarang beserta karyanya. Tugasnya adalah menentukan kekerabatan yang signifikan antara pengarang dan karyanya, asal-undangan. Kekuatan yang mendorong atau tujuan konkrit karya tersebut.


13) Kritik Komparatif

Banyak hal dalam kritik komparatif yang segar dan menarik serta memberi keinginan, kritik ini memperoleh polanya bukan dari kejadian – peristiwa yang berafiliasi dengan waktu, namun justru dari pengelompokan jenis yang memiliki kegunaan serta ide atau pandangan baru yang besar lengan berkuasa.
Hal – hal yang mampu diperbandingkan saja yang hendak digarap Dalam kritik ini yang diterapkan pada nada, tujuan, dan cara, bahkan penerapan pada ketiga hal tersebut lebih dibandingkan dengan terhadap pokok masalahnya sendiri.



14) Kritik Etis

Kritik etis sungguh akrab hubungannya dengan falsafah, keyakinan serta agama. Tanpa adanya pengetahuan yang cukup perihal ketiga hal tersebut akan membuat evaluasi kritik sastra kurang memadai. Pola pikir seorang kritikus dalam hal-hal tersebut sungguh menghipnotis bagaimana ia akan menilai suatu karya.


15) Kritik Perspektif

Kritik ini yakni studi terhadap reputasi sang pengarang yang tercermin dalam karyanya dan menempel pada hati pembacanya. Kritik ini berupaya untuk memeriksa seorang pengarang dari karya yang dihasilkan, apakah pantas menerima penghargaan atau layak diabadikan.


16) Kritik Pragmatik

Adalah jenis kritik yang mengarahkan perhatiannya pada kebergunaan inspirasi, ucapan, dalil atau teori yang terdapat dalam suatu karya sastra bagi masyarakat. Reputasi pengarang diputuskan oleh bagaimana karyanya mampu memiliki kegunaan bagi penduduk .

17) Kritik Elusidatori (Penjelasan)

Adalah jenis kritik yang sifatnya menawarkan klarifikasi. Kritik ini menekankan pada interpretasi arti atau makna karya sastra.


18) Kritik Mudah

Adalah musuh dari kritik teoritis yang condong ilmiah. Tugas kritikus adalah menentukan atau menganggap apakah suatu karya sastra bernilai simpel bagi penduduk atau tidak. Tujuannya sama dengan kritik pragmatis meskipun dengan nama yang berlainan.


19) Kritik Baru

Bagi para kritikus anutan kritik gres, tujuan pokok seni adalah menciptakan analisis sang kritikus perihal seni itu sendiri. Fungsi kritik yaitu melatih kritikus lainnya untuk melatih kritikus lainnya dalam suatu urutan akademik bagi para cendekiawan. Kecenderungan yang dilakukan para kritikus jenis ini yaitu pemanfaatan fasilitas -sarana ilmiah, epigraf dan statistik yang tidak begitu diperhatikan orang dikala memperlihatkan kritik sastra.


20) Kritik Psikologis

Kritik psikologis yaitu salah satu jenis kritik sastra yang mendalami sisi-segi kejiwaan suatu karya sastra, yang mencangkup segi-segi kejiwaan penulis, karya, dan pembaca. Kita tahu bahwa kekerabatan antara psikologi dan kritik sastra ialah sama tuanya dendan usia kedua cabang ilmu tersebut. Dan yang paling besar lengan berkuasa terhada kritik sastra yaitu Sigmund Freud dendan psikoanalisisnya.


21) Kritik Mitopoeik

Kritik Mitopoeik yaitu jenis kritik yang menyangkut penciptaan mitos dalam suatu karya sastra.kritik Mitopoeik ini adalah kritik yang paling baru dan yang paling ambisius diantara pendekatan-pendekatan kritik kekinian dan barang kali juga yang paling provokatif dalam langkah-langkah-langkah-langkah dan kemungkinannya.


22) Kritik Sosiokultural

Kritik sosiokultural yakni interpretasi sastra dalam aspek-faktor social ekonomi dan politisinya.yang merupakan pokok pada kritik ini yaitu interaksi karya sastra dengan kehidupan dan interaksi ini tidak cuma meliputi implikasi-implikasi sosial, ekonomi, serta politis karya tersebut, tetapi juga dalam pemahaman yang amat luas, mencakup implikasi-implikasi watak dan kulturalnya.
Gallery Photos

Gallery Photos

 gallery photos
 gallery photos



 gallery photos


NB : tanggal pada foto tidak valid.





 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos













 gallery photos

 gallery photos





 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos



 gallery photos







 gallery photos














 gallery photos













































































































Puisi Bulan Ini

Puisi Bulan Ini

menemukan hal terindah menusuk sisi indah Puisi Bulan Ini

Aku dan waktu

lonceng pagi menjagaku
menerbangkan kasat bulu mataku
setelah mengembara jauh menitik
garis sebuah untaian alam
mempertahankan lipatan sukma
yang mendekap dirimu begitu erat
salahkah bila…
mengisi kerabat waktu
kakak atau adiknya untuk bercengkerama
denganmu
melewati begitu saja
memperoleh hal terindah menusuk sisi indah
realita
dan bukan sekedar hayalan.


Inspirasi

aku belajar puisi darimu
walau kau tak pernah mengajariku
mencar ilmu dari cinta dan harapan
yang sampai kini aku belum
menggapainya darimu
sebait dua bait ku tuliskan
walau harus mencuri hak cipta
ku ambil dari lirik-lirik lagu
ku ambil dari puisi-puisi sahabat
tetapi Cuma sedikit
cuma untuk mencar ilmu
cuma sebesar kuku hitam
nggak lebih
sekarang saya telah mampu berdiri diatas kaki sendiri
aku mampu menulis puisi sendiri
dan semua itu mencar ilmu darimu
inspirasiku

Nonsens

ranum bibirmu
bagai selongsong peluru
menyanggupi penjuru otakku
siap menghujamku kapan saja
menyeringai bareng binar parasmu
siap menghantuiku setiap waktu
saya bergotong-royong suka realitas
tetapi saya justru serimg berangan
saya ingin angan itu konkret
menjadi realita
menjadi impian
menjadi pijakan
kurun tiba kita berdua
memeluk waktu bersama
tentunya
dalam dekapan asmara

Kuatnya lassomu

kau menjinjing lasso itu
tak sadar tanganmu mengikatkan ke hatiku
bermetamorfosis ikatan besar lengan berkuasa
meruntuhkan tuba tuba kegelapan
menjalar dari titik pangkal
sampai ujung ke ujung
dan tak pantas jikalau kau menariknya lagi
sebab hatiku telah beku terjerat lasso hatimu
dan melayang menenteng
dalam kenangan sajak hati

Aneh

seribu tampang menutup mataku
seribu tatap membuka pandangku
satu hati mengunci hatiku

Sang penyair

lebih dari itu
kamu sisakan senyum pahit
berhambur seiring bintang bintang
menampakkan diri dengan seribu wajah
sejak pahit merajam rasa
kau tak boleh mengenal air mata
kau tak boleh memerah air mata
sehingga lambat laun kan jadi jerit batin
dan berharap menyadarkanmu
hingga ketika kamu letakkan
bulan bulan purnama di hati
menghiasi sekat sekat kepahitan
datanglah rasa tenteram
menemani alunan lirik hati
sang penyair hati

Cita sajak

coba ceritakan pada penyair-penyair itu, kapan mereka menulis sajak,
bagaimana, mengapa, dan untuk apa serta siapa sajak sajak itu mereka tulis
untuk kebahagiaankah atau cuma suatu luapan kekecewaan
terhadap siapa goresan pena-tulisan itu terangkai di kerikil sajak, entah berapa usang sajak sajak itu cuma mengembara ke setiap lorong lorong waktu dan meninggalkan sukma sukma berlari menjauhi
mungkinkah semua itu cuma sekedar hiburan, hayalan, bualan, dan tak ada waktu untuk menjadi sebuah harapan

Kekal

rumput mengajukan pertanyaan pada kabut
siapa memapah kedua bahunya
menjemput hidup berangsur mati
selaput langit mendengar lewat
lubang lubang tuli
bergejolak tanah terbakar perih
cahaya dari angkasa
seputar insting atau naluri
rasa itu terus memutar
belum terjawab apa menjadi tanya
sejalan titian waktu
ditemui kekekalan hakiki
tidak fana
tidak pudar
tidak luntur
di tengah waktu beralun alun


Kering menunggu jawab

kepada langit bumi berharap
akan datang hujan
tanah keringnya sudah memahat
beratus ratus hari
lagi dan lagi
bubuk abu berterbangan seperti
wallet pulang ke sarang senja
masa itu
tak gampang jumpai setetes air
arungi laut hanya memerih rasa
bayu kepulkan maritim
menjadi awan
biarkan hitam dan datang petir menggelegar
biarkan tanah menjadi sejuk
oleh guyurannya

Thursday, 14 October 2021

Cerpen Kali Ini

Cerpen Kali Ini

LENGGANG KEHIDUPAN
Oleh : Adh

Tiga cowok terlihat beristirahat di sebuah emperan toko. Memanfaatkan waktu untuk mengeringkan peluh yang membasahi badan. Udara cukup panas. Matahari telah berada tepat di atas kepala. Siang telah melalaikan setengah rutinitas matahari. Raung kendaraan silih brganti mengisi indera pendengaran mereka. Di depan emperan took yang tutup itu, salah satu dari mereka menyalakan rokok. Sesaat lalu dihisapnya dalam-dalam. Terlihat pada raut wajahnya ia menikmati rokoknya. Temannya yang berada tepat di samping kanannya turut mengeluarkan bungkus rokok dari saku celana panjangnya. Entah celana panjang atau celana setengah panjang, karena cuma beberapa centi saja di bawah lutut. Ia mengambil sebatang rokok. Ia meminjam rokok temannya tadi yang sudah dihisap untuk menyalakan rokok yang gres saja beliau keluarkan. Satu semburan asap keluar mengepul dari mulutnya.
“ Ton!, Mau rokok nggak? ini aku masih ada!” cowok yang baru sajamenyulut rokok memperlihatkan rokoknya terhadap Anton. Ia berjulukan Rudi. Seketika cowok yang lebih dulu menikmati rokok menyahut.
“ Mana mungkin dia mau merokok, lha dia sudah berjanji dihadapan orang tuanya untuk tidak menikmati yang namanya rokok.”
Anton sejurus menatap Tono yang baru saja berbicara. Anton cuma membuatkan senyum persahabatannya. Anton senantiasa ingat kesepakatan itu. apalagi di dikala ada orang yang menawarinya untuk merokok. Bagi kehidupannya, kesepakatan itu mirip adegan slow motion yang di ulang-ulang dalam sebuah film. Bahkan kini beliau sudah menganggap komitmen itu sebagai prinsip hidup yang mesti selalu ia pegang.
“ Ingkari saja janjimu itu. Sekarang jamannya sudah biasa ingkar janji. Presiden saja suka ingkar komitmen, kok kita sebagai rakyatnya tak maubahkan dihentikan ingkar kesepakatan?” Ungkap Rudi.
Anton hanya membisu dengan pernyataanitu. Ia cuma menikmati waktu istirahatnya dengan memainkan gitar yang berada di pangkuannya. Ia memainkan lagu yang sedang popular di bulan ini. Mereka terlihat sungguh lelah. Rasa kantuk menghinggapi mereka. Rudi menganjurkan untuk pulang alasannya adalah rasa kantuknya sudah tak dapat ditahan lagi. Semua menyetujuinya. Terlihat langkah kaki mereka meninggalakn emperan toko.
Malam sudah mengganti senja. Bintang-bintang menyala terang menghiasi singgasana langit. Suara serangga malam saling bersahutan melawan kegaduhan kendaraan kota yang kian malam kian menyusut.
Mereka tampak sibuk dengan bukunya masing-masing dalam suatu ruang. Mereka mesti merencanakan otak dan mental mereka untuk menghadapi ujia yang akan diadakan dosennya. Dosen yang terkenal killer di antara dosen-dosen yang lain. Kebiaasannya memberi nilai seadanya bahkan terkenal sangat pelit. Bukan pelit, namun dosenitu terlalu objektif terhadap mahasiswanya tanpa menyaksikan faktor-aspek lainnya seperti kerajinan, kelakuan dan yang lain.
Pagi begitu cerah. Langit biru terang terpendar cahaya mentari. Anton, Tono dan Rudi telah siap berangkat kuliah dengan dandanan yang tidak mengecewakan klimais. Pagi itu mereka berangkat lebih pagi dari lazimnya karena jam pertama ada ujian oleh dosen killer yang pernah mereka temui. Sampai soal ujian dibagikan dan disuruh melaksanakan. Terlihat ruang kuliah ynag padat mahasisiwa itu sungguh sepi. Meski ada bunyi, paling-paling hanya suara pulpen jatuh atau decitan bangku bergeser.
Tepat tengah hari acara kuliah tamat. Jam pertama sampai jam kedua yakni ujian. Jam selanjutnya mereka hanya duduk hening mendengarkankuliah dari dosen lain sampai kuliah akhir. Anton mengajak Tono dan Rudi untuk makan di kantin. Mereka menyetujuinya. Dengan segera mereka menuju ke kantin. Kantin paling murah di kampusnya dengan plakat “Kantin Sederhana”. Nama kantin itu cocok sekali dengan harga kuliner yang dijual di kantin tersebut.
” Bagaiman nanti sore? Kita mau ngamen tidak?” Rudi mengajukan pertanyaan pada Anton dan Tono.
“ Tentu dong!” Jawab mereka serentak.
Inilah kehidupan mereka. Mahasiswa dengan sederet kegiatan. Mereka menggemari keleluasaan dan seni yakni bagiannya.Waktu luang adalah momok bagi mereka. Pemikiran dasarnya adalah tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Sekecil apapun waktu luang, mesti mereka isi dengan hal yang memiliki kegunaan. Walau demikian, mereka tetap membutuhkan waktu istirahat. Kesehatan dan ketahanan fisik yakni modal untuk hasil yang bagus. Di antara kebebasan itu, mereka kurang menyukai birokrasi. Baginya birokrsi dapat menghalangi kreativitas mereka.
“Biarlah birokrasi itu ada, namun biarkan juga orang lain yang mengurusnya alasannya tanpa birokrasi hukum yang ada akan menjadi berantakan” Itu yang sering mereka katakan. Mereka tidak mau menggeluti ke dalamnya.
Pagi pastinya waktu untuk kuliah. Waktu kuliah tidak sampai sore, hamya sampai tengah hari. dan itu pun setiap hari, kecuali hari sabtu dan minggu. Hari sabtu dan Minggu yakni hari bebas kuliah. Seusai kuliah yaitu waktu yang bebas untuk mereka gunakan Kegiatan formal tidak mengikatnya. Mereka menggunakan waktu yang luang untuk berkarya., khusuusnya karya seni. Dari karya-karyanya itu, mereka menciptakan banyak uang untuk menolong kehidupan mereka. Tak jarang nama-nama mereka terpampang di media era baik setempat maupun nasional. Karya-karya mereka berbentukessai, puisi novel dan lukisan.
Mereka suka berkelana ke segala penjuru kota untuk mengamen. Ngamen adalah hiburan bagi mereka sendiri dan orang lain. Dari ngamen, uang yang diperoleh ialah tujuan kesekian kali. Tujuan utama yakni mengeksplor talenta dan tentunya melatih mental untuk menghadapi segala tantangan serta pengalaman. Tak jarang mereka mereka menemukan pengalaman yang pahit dari mengamen. Tapi pastinya itu semakin menjadi warna hidup yang menghiasi cerita mereka. Dicaci, dicemooh, diusir dan sedret kata-kata yang tidak mengenakan sering mereka rasakan. Itupun mampu menjadi wawasan tersendiri bagi mereka ialah dapat menyaksikan banyak sekali huruf dan sikap banyak orang.
Mengamen di tempat umum ialah hal yang sarat dengan tantangan. Mereka semampunya mampu menjadi seekor bunglon yang snggup merubah warna atau seekor cicak yang memotong ekornya saat ada sesuatu yang membahayakan. Harus main petak umpet dengan preman-preman yang ada. Nyali mereka mesti besar untuk meladang di beberapa kawasan yang telah diakui selaku wilayah kekuasaan para preman. Padahal kekuasaan seharusnya berada di tangan pemerintah. Walu bergotong-royong pemerintah sendiri kadang kala menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Mereka mengaku selaku pihak keselamatan tanpa nomor induk. Adakah pertanyaa bagi siapa pun “ Buat apa polisi?”
Sore itu sesudah paginya mereka berpikir keras untuk cobaan, mereka putuskan untuk mengamen. Sore itu seitar pukul empat. Anton berlangsung tegak dengan menjinjing gitar kesayangannya. Begitu pula dengan Tono . Ia menjinjing kentrungnya. Rudi tak membawa alat musik seperti halnya mereka berdua. Ia cuma menggunakan topi yang sering digunakan untuk daerah uang ketika mengamen. Ia hanya mengandalkan suara dan tepuk tangan dalam menjalani profesi sebagai pengamen. Meeka beraksi di setiap gang perumahan. Berdendang lagu tolong-menolong setiap di depan rumah. Entah rumah siapa,mereka tak perduli. Entah rumah polisi, dosen, dokter bahkan rumah sobat-sobat kuliah mereka sambangi. Seratus, dua ratus, lima ratus dan bahkan seribu. Untuk jumlah yang terakhir itu jarang sekali mereka peroleh. Tapi entah ada angin apa, sore ini mereka sudah mendpatkan empat lembar duit seribuan. Entah hari baik atau nasib yang sedang mujur.
Senja sudah tiba. Mereka belum juga menyelesaikan pekerjaannya sebagai pengamen. Adzan maghrib berkumandang. Ibadah juga ialah janji mereka. Hidup yakni untuk beribadah dan berkarya. Hidup tanpa amal dan karya ialah kosong tanpa makna.
Setelah sholat Maghrib mereka melanjutkan mengamen. Namun tidak dikomplek perumahan, melainkan di bus-bus malam. maklum hari mulai malam. Dan mereka bernyanyi dari stu bus ke bus yang lain. Dan peristiwa itu terjadi. Bus telah berhenti di terminal. Mereka hendak turun, pengamen lain masuk ke dalam bus. Dan inilah, pengamen yang baru masuk merasa ladangnya sudah dimasuki kucing liar.
Aksi saling debat terjadi. Keributan secepatnya terjadi. Mereka tak sempat lari dan segera di seret ke gang sempit. Pengamen lain tersebut menenteng teman-temannya yang sering nongkrong di terminal tersebut. Jumlahnya sekitar delapan orang. Mereka hanya dan harus bertahan alasannya adalah dikeroyok. Sepucuk belati keluar dari tangan dan menjajal menhujamkannya ke tubuh Rudi. Tangan Anton menangkis dan tak sengaja menusuk dada seseorang dari kawanan. Satu preman mati.
Polisi tiba mengintrogasi. Mereka ditangkap alasannya sidik jari Anton melekat dalam belati. Beragam alasan yang merek kemukakan. Tapi nyatanya sia-sia. Menjadi sosok selaku pengamen dan hidup di jalanan telah mencap mereka selaku sosok yang begitu dengan kriminalitas. Status mahasiswa tak menguatkan alasan-alasan yang mengendorkan mereka. Dan inilah sebuah realita yang mesti dihadapinya.
Semua dijadikan tersangka. Dan Anton yaitu selaku tersangka utama. Lebih buruk lagi, pihak kampus dengan hukum yang ada sudah menjatuhan vonis drop out apalagi dulu. Hal ini untuk menjaga nama baik kampus. Kini mereka mendekam di penjara. Dingin, kotor, sumpek memenuhi segala situasi. Harapan menjangkau cita selaku sarjana sudah pupus. Namun ini semua belum sepenuhnya pupus, mungkin hanya tertunda saja. Mereka yakin bahwa dewa itu adil. Entah hingga kapan mereka harus menjalani keterpurukan ini. Hanya waktu yang akan menjawab.

Surakarta, 29 Maret 2007
Puisi

Puisi

bunga yang kian layu dan akhirnya kering Puisi
Bunga Duka

Duka itu seperti kabut di tengah hari
menggelapi setiap mata yang menyaksikan
menciptakan perih di kelopak mata
lirih langit berucap pada bumi
duka itu bernama akhir hayat
ketika itu berkembang bunga air mata bangsa
bunga yang kian layu dan alhasil kering
dalam kabung berhias doa
air mata negeri tumpah
menjadi lukisan bela sungkawa
bunga itu masih memberi keharuman
insan-manusia belum melupakan indah kelopaknya
belum dapat mengaburkan keharumannya
walau setiap batangnya menyimpan duri
dia tetap bunga sejati bangsa
dan dalam linang doa
mereka menyemayamkan dalam taman keabadian

Wajah Teduh Itu

Wajah teduh itu
bernama putra bangsa
memimpin negeri dengan kedua tangan bahunya
di antara keteduhannya ada bara api
panasnya bisa mengkremasi semangat bangsa
bisa membangun negeri sarat kuasa
hingga negeri berganti maju
tetapi tampang teduh itu
mampu membuat keleluasaan tersangkar mati
terkunci dalam suatu kekuasaan
sampai bunyi-bunyi tenang dalam dekapannya
dari semua kisahnya
Wajah teduh itu
layak dihargai sebagai putra bangsa
dan kini
Wajah teduh itu
sudah kembali ke alam yang teduh
Di Sebuah Malam

Di Sebuah Malam

 hingga bayang pun menjadi tebal menghitam tak terkikis sinar rembulan Di suatu Malam

Sepertinya malam telah bertambah malam, hingga bayang pun menjadi tebal menghitam tak terkikis sinar rembulan. Aku teduhkan wajahmu pada sandaran hatiku yang sepi terganggu waktu. Hingga napasku mengejar-ngejar sebuah lentera kasih yang kamu tulis dalam desiran angin malam. Lantunan lembut desah napasmu mengukir bingkisan hati untuk menenun sebuah kisah malam yang terlukis dalam suatu lamunan yang kamu ciptakan. Tak tercerai tetes embun kamu siramkan selaksa kasih sayang dan kau hujamkan suatu sajak kedamaian untuk mimpi hangat yang melelapkan singgasana anganku. Terusir kata saya sampaikan risalah hati untuk langit-langit jiwamu yang bagus menari bersama tiupan bayu. Lekuk gerak tubuhmu mengisyaratkan sebuah rasa yang membahana memenuhi ruang batin. Tak lain redup sang surya telah memadamkan senja dan membingkai hari menjadi lanskap malam yang indah. Lebih indah alasannya adalah ada indahmu di sisiku. Detik irama lagu hati terus telantun menjadi suatu bait dalam potongan cerita hati. Inginku sandarkan hangat pelukmu di bahku lalu melantunkan lirik dongeng malam, sampai sayu matamu menjadi indah terburai lembut buaian jemari. Layangkan mimpi pada suatu singgasana keindahan berhiaskan tahta kedamaian. Lentik alismu meneduhkan setiap kata yang terucap dalam benakku. Mencoba memberikan rahasia hati yang terpendam dalam titian watu cadas yang lama terkikis gemericik air yang menetes dari dalam gemuruh jiwa. Kau tuntun arahku menuju singgsana keindahan yang terpahat indah sajak-sajak hati. Setiap kata yang terukir membiaskan rasa di antara kita. Tersulam sutra keabadian dalam sebuah keindahan. Luluhkan rasa hangat dan alirkan nada-nada pendamai jiwa di atas semayam lelapku di atas pangkuan mimpi indah bersamamu.
Layangkan lamunan, kita melayang menghempas awan yang berarak mengikuti langkah kita. Seperti pasukan prajurit yang mengawal sepasang manusia menikmati taman nirwana. Di temani ribuan peri-peri kecil menari membawakan gerak lekuk indah menenteramkan sukma. Tak ada gelisah, tak ada rona semburat tampang yang kusam dalam titian hati kita. Ku bingkai malam menjadi suatu kado terindah yang berhiaskan ribuan bintang. Ku teduhkan sang rembulan dengan tempias sinarnya dan membiarkan sayap malam menerbangkan angan jauh menyusuri langit.
Terangkai asa kamu labuhkanku pada suatu pulau. Hanya ada kita berdua menikmati suasana pantai dengan hamparan pasir putih yang landai. Senja mengirimkan puluhan camar mendendangkan nyanyian ihwal hati. Kita nikmati lepas pantai dengan semburat sinar mentari yang jingga. Berkendara perahu berdayung cinta kita, labuhkan langkah kita sesudah letih menyusuri pantai senja. Dan saat itu ku rindukan dayung kerinduanmu!!!!!
Puisiku

Puisiku


  • Awan putih menepi di antara cakarawala biru PuisikuPipit Pagi

Pagi masih berkabut tebal

Seekor pipit meninggalkan sarang

Terbang menembus acuh taacuh pagi

Mengejar mentari pancarkan kehangatan

Berkicau merdu ceriakan dunia

Terkadang hinggap ke tanah

Merasakan sejuk embun yang membasahi


  • Sejuk

Awan putih menepi di antara cakarawala biru

Awan putih menepi di antara cakarawala biru PuisikuMegah berarak tersinar mentari pagi

Kuncup bunga mulai menampakkan senyum

Menjelma mahkota irama hati

Semerbak pancarkan kesejukkan


  • Kelabu

Gerimis menyulap azzura langit mengelabu

Bertatap hawa dingin menusuk rongga-rongga tubuh

Seakan langit hatiku runtuh bareng awan kelabu

Dan datanglah mahadewi menopang

Berharap akan ketegarannya


  • Tanya

Bidadari itu seakan-akan mengepakkan sayap

Dan melayang jauh menjadi awan di antara azura langit

Awan putih menepi di antara cakarawala biru Puisiku

Aku menjajal bersabar

Namun saya cuma mampu memandangnya tanpa mampu

menggapainya

Mungkin ini skenario sang pencipta

Sampai saya menemukannya

Atau beliau yang mau menemukanku


  • Senandung Lirih Untukmu

Pagi mulai terjaga dari lelap tidurnya

Ribuan bintang seolah tertelan cerah langit

Daun-daun pun ikut membuka mata

Rumput-rumput bergetar seolah mengeja hempasan angin

Dan alam pun bersenandung lirih untukmu

Awan putih menepi di antara cakarawala biru Puisiku








  • Lirik Malam

Sisi batin terjerembab ke alunan pena malam

Lelap menelan indah lantunan dawai-dawai malam

Mengusik mata memandang kunang-kunang mengukir gelap

Meninggalkan lukisan bertabur mahkota kedamaian


  • Senyum itu

Ilalang sambut awan pagi

Kencana merona membias langit

Senyum mentari melelehkan kabut

Kian menipis balutan sutra

Mata tak lagi terpejam

Tengoklah pagi secerah senyummu kemarin


  • Ceria Yang Tersirat

Pagi mulai mengayuh hari dengan sejuk embunnya

Segarkan kembali mahkota bunga yang mulai meranum

Kecupan mentari hangat menyusur ruang jiwa

Kicau burung melukis keheningan

Semua tersirat suatu keceriaan


  • Suara Malam
Denting tengah malam menggetarkan rasa

Gemericik tetes gerimis malam masih terdengar

Pelan mengisi ruang kosong

Terjerit bunyi tangis malam

Menerpa dinding kebosanan

Teringat paras elokmu dalam lamunanku malam ini

Dan bawalah saya ke dalam mimpi hangatmu


  • Awan putih menepi di antara cakarawala biru PuisikuIsyarat dari Senja

Lembayung senja isyaratkan kata

Di antara sahdu langit yang mulai temaram

Oleskan kelembutan dengan teduh cahaya

Memejamkan mataku merasakan keharuan

Di ketika hati menyatu dalam ikatan cinta



  • Lilinku

Lilin ucapkan

Awan putih menepi di antara cakarawala biru Puisiku

kete

garan hatinya

Di sela-sela acuh taacuh malam

Ia mengawaldengan teduh dan hangat cahayanya

Sepintas diriku terselimut tirani keteduhan

Mengantarkan ke negeri kedamaian

Dengan jejak selembut angin senja